RSS
Container Icon

Pesan Terakhir Baden Powell


Pramuka-pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara Peter Pan, maka kamu akan melihat mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum meninggal, karena ia takut, kalau-kalau tidak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikian halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum meninggal, namun saat itu akan tiba juga bagiku. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri……………
Ingatlah, ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu, renungkanlah !
Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu sepeti aku. Saya yakin bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan adalah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya.
Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekan. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba didalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam Janji Pramukamu, meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi dan Tuhan akan berkenan memberikan karunia pertolongan padamu dalam usahamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujian Nasional (UN) Sudah Banyak Makan Korban

Banjarmasinpost.co.id - Sabtu, 19 Desember 2009 | 00:35 Wita

Oleh: Roy M Sengaji
Pelajar SMP Negeri 5 Banjarmasin

UJIAN nasional (UN) yang menjadi fenomena di negeri ini banyak memakan korban. Mahkamah Agung (MA) beberapa waktu lalu dalam putusannya melarang adanya UN.

Saya dan teman-teman di sekolah berharap, jangan ada UN lagi untuk menentukan kelulusan. Boleh saja ada UN tapi jangan jadi penentu kelulusan, biarlah yang menentukan kelulusan guru dan sekolah.

Dengan adanya UN, saya rasa sudah menelantarkan keadilan para pelajar di negeri ini. Karena itu, pemerintah harus meninjau ulang sistem pendidikan yang ada, janganlah UN dijadikan ajang perlombaan tiap masing - masing daerah.

Pemerintah harus memikirkan hati nurani peserta didik. Kalau UN tetap dilaksanakan, pemerintah harus memperhatikan fasilitas penunjangnya.

Standar UN tahun ini masih sama dengan tahun lalu, yaitu 5,5. Standar itu sangat tinggi, aparat pendidikan harus mempertimbangkan lagi. Semoga pemerintah dapat mendengar keluhan para ‘penuntut ilmu’ ini. Mudah-mudahan tahun ini tak ada lagi ‘korban’ UN. (*)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Music

Pengikut